Kamis, 17 Oktober 2013

ASKEP COPD ( CRONIK OBSTRUCTIVE PULMO DISEASE)

Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK/COPD - Chronic Obstructive Pulmonary Disease ) merupakan suatu kelompok gangguan pulmoner yang ditandai dengan adanya obstruksi permanen (irreversible) terhadap aliran ekspirasi udara. Peradangan kronis. Sebagai respon dari asap rokok yang dihisap, gas beracun, dan debu, merusak saluran napas dan parenkim paru. PPOK dahulunya diklasifikasikan menjadi subtipe bronchitis kronik. asma bronchiale, dan emfisem parua, walaupun kebanyakan pasien memiliki ketiganya. Bronkitis kronis didefinisikan sebagai batuk produktif kronis selama lebih dari 2 tahun, asma bronchiale yaitu suatu gangguan pada saluran bronchial yang mempunyai ciri bronchospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas) dan emfisema paru ditandai oleh adanya kerusakan pada dinding alveola yang menyebabkan peningkatan ukuran ruang udara distal yang abnormal.
A.    Faktor Resiko PPOK/ COPD
Merokok sekarang ini merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya PPOK di negara maju. Sebanyak 85% hingga 90% pasien dengan PPOK memiliki riwayat merokok. Namun dilain pihak, hanya 15% dari perokok yang akan mengidap PPOK, mengindikasikan sepertinya terdapat faktor konstitusional atau genetik yang menentukan resiko berkembangnya obstruksi saluran napas pada seseorang. Defisiensi α1-anti-trypsin merupakan satu-satunya faktor resiko terkait genetik yang diketahui sampai saat ini, namun kecendrungan PPOK untuk berkembang pada keluarga tertentu mengindikasikan terdapat faktor herediter lainnya yang belum teridentifikasi. Polusi udara seperti paparan okupansional terhadap debu dan gas telah terkait dengan perkembangan PPOK. Faktor resiko lainnya yang berimplikasi klinis termasuk adanya hiperresponsif bronchial, paparan partikel, bayi berat lahir rendah, gangguan pertumbuhan dan perkembangan paru, sress oksidatif, jenis kelamin, umur, infeksi saluran nafas, status sosioekonomi dan nutrisi, serta komorbiditas
B.    Patofisiologi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa factor resiko utama dari PPOK ini adalah merokok. Komponen-komponen asap rokok ini merangsang perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil mucus dan silia. Selain itu silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil mucus dan sel-sel silia ini mengganggu system escalator mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mucus kental dalam jumlah besar dan sulit dikeluarkan dari saluran nafas.
Mucus berfungsi sebagai tempat persemaian mikroorganisme penyebab infeksi dan menjadi sangat purulen. Timbul peradangan yang menyebabkan edema dan pembengkakan jaringan, ventilasi terutama ekspirasi terhambat. Timbul hiperkapnia akibat dari ekspirasi yang memanjang dan sulit dilakukan akibat mucus yang kental dan adanya peradangan. (Antonio et all, 2007).
Obstruksi saluran nafas pada PPOK bersifat irreversibel dan terjadi karena perubahan structural pada saluran nafas kecil yaitu : inflamasi, fibrosis, metaplasisel goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan nafas. Ada beberapa karakteristik inflamasi yang terjadi pada pasien PPOK, yakni : peningkatan jumlah neutrofil (didalam lumen saluran nafas), makrofag (lumen saluran nafas, dinding saluran nafas, dan parenkim), limfosit CD 8+ (dinding saluran nafas dan parenkim). Yang mana hal ini dapat dibedakan dengan inflamasi yang terjadi pada penderita asma (Corwin EJ, 2001).
C.    Manifestasi klinis
Gejala kardinal dari PPOK adalah batuk dan ekspektorasi, dimana cenderung meningkat dan maksimal pada pagi hari dan menandakan adanya pengumpulan sekresi semalam sebelumnya. Batuk produktif, pada awalnya intermitten, dan kemudian terjadi hampir tiap hari seiring waktu.Sputum berwarna bening dan mukoid, namun dapat pula menjadi tebal, kuning, bahkan kadang ditemukan darah selama terjadinya infeksi bakteri respiratorik.
Sesak napas setelah beraktivitas berat terjadi seiring dengan berkembangnya penyakit. Pada keadaan yang berat, sesak napas bahkan terjadi dengan aktivitas minimal dan bahkan pada saat istirahat akibat semakin memburuknya abnormalitas pertukaran udara. Pada penyakit yang moderat hingga berat , pemeriksaan fisik dapat memperlihatkan penurunan suara napas, ekspirasi yang memanjang, rhonchi, dan hiperresonansi pada perkusi. Karena penyakit yang berat kadang berkomplikasi menjadi hipertensi pulmoner dan cor pulmonale, tanda gagal jantung kanan (termasuk distensi vena sentralis, hepatomegali, dan edema tungkai) dapat pula ditemukan.Clubbing pada jari bukan ciri khas PPOK dan ketika ditemukan, kecurigaan diarahkan pada ganguan lainnya, terutama karsinoma bronkogenik.
Tanda-tanda dan gejala kemunculan PPOK sering kali berkaitan dengan respirasi. Keluhan respirasi ini harus diperiksa dengan teliti karena seringkali dianggap sebagai gejala yang biasa terjadi pada proses penuaan. Berikut ini adalah beberapa gejala yang muncul pada penderita penyakit paru obstruktif kronik:
·        Batuk kronik, adalah batuk hilang timbul selama 3 bulan yang tidak hilang dengan pengobatan yang diberikan.
·        Berdahak kronik, kadang kadang pasien menyatakan hanya berdahak terus menerus tanpa disertai batuk.
·        Sesak nafas, terutama pada saat melakukan aktivitas. Seringkali pasien sudah mengalami adaptasi dengan sesak nafas yang bersifat progressif lambat sehingga sesak ini tidak dikeluhkan.
Gejala dan tanda-tanda PPOK lainnya adalah sebagai berikut :
·        Bentuk dada barrel chest (dada seperti tong)
·        Terdapat cara bernapas purse lips breathing (seperti orang meniup)
·        Terlihat penggunaan dan hipertrofi (pembesaran) otot bantu nafas
·        Pelebaran sela iga
·        Hipersonor
·        Fremitus melemah,
·        Suara nafas vesikuler melemah atau normal
·        Ekspirasi memanjang
·        Mengi (biasanya timbul pada eksaserbasi)
·        Ronki

A.    Kasus
Tn.R 68 tahun datang ke IGD dengan keluhan pusing, sesak nafas pada saat posisi pasien dari tidur ke duduk, dan batuk. RPS ( Riwayat Penyakit Sekarang) yaitu satu bulan terakhir tiap pagi batuk-batuk sampai dahak keluar semua. Sesak nafas bila menaiki tangga. Dua hari terakhir, pasien mengeluh demam, batuk, pilek, pusing, dan sesak nafas. Pasien sempat mengalami keluhan serupa dan masuk Rumah Sakit dengan keluhan yang sama 6 bulan yang lalu. Berdasarkan anamnesia dan pemeriksaan Spirometri dan foto thorax, diagnose yang ditegakkan klinis/dokter PPOK stadium 3. Terapi yang diberikan : Oksigen 8 liter dengan RM, setelah stabil terapi yang diberikan adalah Codein 10 mg per oral 3x1 dan Seretide MDI ( Metered Dose Inhaler) tiap 6 jam. TTV saat pasien beraktivias :
-          Suhu = 38,50C                                     -    TD = 140/90 mmHg
-          Nadi = 100 kali/menit                         -    RR = 75 kali/ menit

B.     Analisis Data
No.
Data
Masalah
Etiologi
1.
DS : pasien mengeluhkan sesak nafas pada saat posisi pasien dari tidur ke duduk.
DO : TTV pasien setelah beraktivitas, TD 140/90 mm Hg, N 100x/menit, RR 25x/menit.
Intoleransi Aktivitas
Ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan.

2.
DS : pasien mengeluhkan sesak nafas pada saat posisi pasien dari tidur ke duduk.
DO : RR 25x/menit, terapi yang diberikan Oksigen RM 8 liter
Gangguan Pertukaran Gas
Ketidakseimbangan ventilasi perfusi

C.    Asuhan Keperawatan

No
Diagnosa
NOC
NIC
1.
Impaired Gas Exchange
Definisi : kelebihan atau kekurangan dalam oksigenasi dan atau eliminasi karbondioksida di membran alveolar-kapiler

Batasan karakteristik :
a.       Menurunnya karbondioksida
b.      Dyspnea

Faktor yang berhubungan :
Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
Respiratory Status : Ventilation
Definisi : Pergerakan udara masuk dan keluar dari paru-paru.

Indikator :
Ø  RR klien dalam batas normal
Ø  Ritme pernafasan klien dalam batas normal
Ø  Klien tidak merasa sesak napas ketika beraktivitas
Ø  Membaiknya hasil tes fungsi pernapasan kien
Ø  Klien dapat melakukan napas dalam


Vital Sign
Definisi : Kondisi dimana suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah dalam rentang normal.

Indikator :
Ø  Suhu tubuh klien dalam rentang normal


Airway Management
Definisi : memfasilitasi patensi dari saluran udara.

Aktivitas :
Ø  Posisi pasien untuk memaksimalkan potensi ventilasi
Ø  Mendorong memperlambat pernapasan dalam, berbalik dan batuk
Ø  mengelola bronkodilator, yang sesuai
Ø  mengelola perawatan aerosol, yang sesuai
Ø  mengelola udara humidied atau oksigen, yang sesuai
Ø  memonitor pernapasan dan status oksigenasi, yang sesuai


Respiratoy Monitoring
Definisi : pengumpulan dan analisis data pasien untuk memastikan patensi jalan napas dan pertukaran gas yang memadai
Aktivitas :
Ø  memantau tingkat, irama, kedalaman, dan upaya pernapasan
Ø  memantau respirasi berisik, seperti berkokok atau mendengkur
Ø  Auskultasi bunyi nafas, daerah mencatat dari penurunan / ventilasi tidak ada dan kehadiran souds adventious.
Ø  palpasi untuk ekspansi paru-paru yang sama
Ø  memantau gelisah meningkat, kecemasan, dan kebuhan udara
Ø  memonitor pasien pernapasan sekresi
Ø  memantau dyspnea dan peristiwa yang meningkatkan dan memburuk


Ventilation Assistance
Definisi : promosi pola pernapasan yang optimal spontan yang memaksimalkan oksigen dan pertukaran karbondioksida di paru-paru.



Aktifitas :
Ø  mempertahankan jalan napas paten.
Ø  posisi untuk mengurangi dyspnea.
Ø  posisi untuk memfasilitasi ventilasi / perfusi yang cocok sesuai
Ø  posisi untuk meminimalkan upaya pernapasan
Ø  memonitor pernapasan dan status oksigenasi
Ø  mengelola obat (bronkodilator misalnya dan inhaler) yang mempromosikan patensi jalan napas
Ø  mengajar bernapas tehniques, yang sesuai


Vital Signs Monitoring
Definisi : mengumpulkan dan menganalisis data dari sistem kardiovaskuler, respirasi, dan suhu tubuh unuk menemukan dan mencegah komplikasi

Aktvitas:
Ø  Monior tekanan darah, nadi, suhu, dan statu pernpasan, jika memungkinkan.
Ø  Monitor tekanan darah, nadi, pernapsn, sebelum selama dan setelah aktivitas, jika memungkinkan.
Ø  Monitor tekanan darah ketika pasien, berbaring, duduk dan berdiri sebelum dan setelah perubahan posisi, jika memungkinkan.
Ø  Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipotermi dn hipertermi.
Ø  Monitor RR dan rime pernapsan, mislanya kedalaman dan kesimetrisan.
Ø  Monitor suara paru.
Ø  Monitor pola respirasi yang abnormal.
Ø  Monitor warna kulit, suhu dan kelembapan.
Ø  Monitor sianosis central dan perifer
Ø  Identifikasi kemungkinan penyebab perubahan TTV.
2. 
Activity Intolerance
Definisi :
Ketidakcukupan energi  fisiologis atau psikologis untuk memenuhi kebutuhan atau yang diperlukan untuk aktifitas sehari-hari.

Batasan karakteristik :
a.       Abnormalitas tekanan darah setelah  beraktifitas
b.      Abnormalitas HR setelah beraktifitas
c.       Perubahan pola EKG yang menunjukkan aritmia
d.      Dyspnea

Faktor  yang  berhubungan :
Ketidakseimbangan antara suplay oksigen dengan kebutuhan tubuh
Activity Tolerance
Definisi : respon fisiologis terhadap energi yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas harian.

Indikator :
Ø  Saturasi oksigen klien mencukupi untuk melakukan aktivitas
Ø  RR klien ketika beraktivitas dalam batas normal
Ø  Klien merasa tidak susah bernapas ketika beaktifitas
Ø  Tekanan darah sitolik klien normal ketika beraktifitas
Ø  Tekanan darah diastolik klien normal ketika beraktifitas


Endurance
Definisi  : Kemampuan klien untuk mempertahankan aktivitas.

Indikator :
Ø  Klien menunjukkan pola kebiasaan rutin yang lebih baik
Ø  Klien menunjukan pola aktifitas yang lebih baik
Ø  klien tidak merasakan kelelahan
Ø  Blood Oxigen Level dalam batas normal


Activity Therapy
Definisi : resep dan bantuan dengan spesifik fisik, kognitif, kegiatan sosial, dan spiritual untuk meningkatkan jangkauan, frekuensi, atau durasi (atau kelompok) kegiatan individu.

Aktivitas :
Ø  membantu untuk fokus pada apa yang dapat pasien lakukan, bukan pada keterbatasan
Ø  menciptakan lingkungan yang aman bagi gerakan otot berkelanjutan, sesuai indikasi
Ø  membantu pasien / keluarga untuk mengidentifikasi keterbatasan di  tingkat aktivitas



Energy Management
Definisi  : mengatur penggunaan energi untuk mengobati untuk mencegah kelelahan dan mengoptimalkan fungsi.

Aktivitas :
Ø  Status fisiologis menilai pasien untuk keterbatasan yang dihasilkan dalam konteks usia dan perkembangan
Ø  mendorong verbalisasi perasaan tentang keterbatasan
Ø  pilih intervensi untuk mengurangi kelelahan menggunakan kombinasi kategori farmakologis dan non-farmakologis, sesuai
Ø  membatasi rangsangan lingkungan (misalnya, cahaya dan kebisingan) untuk memfasilitasi relaksasi
Ø  mempromosikan bedrest / kegiatan pembatasan (misalnya, meningkatkan jumlah waktu istirahat) dengan pilihan waktu isirahat
Ø  mengatur kegiatan fisik untuk mengurangi kompetisi untuk suplai oksigen ke fungsi tubuh yg vital (misalnya, menghindari aktivitas setelah makan)



Sumber :

1.      NANDA, NOC and NIC
2.      Linus Santo Tomas - Kochar's Clinical Medicine for Students, 5th Edition
Translated by Husnul Mubarak,S.Ked
9. GOLD. Pocket Guide to COPD Diagnosis, Management and Prevention. USA: 2007. p. 6. [serial online] 2007. [Cited] 20 Juni 2008. Didapat dari :http://www.goldcopd.com/Guidelineitem.asp?l1=2&l2=1&intId=989

0 komentar:

Posting Komentar