Penyakit Paru Obstruksi Kronis
(PPOK/COPD - Chronic Obstructive
Pulmonary Disease ) merupakan suatu kelompok gangguan pulmoner yang
ditandai dengan adanya obstruksi permanen (irreversible) terhadap aliran
ekspirasi udara. Peradangan kronis. Sebagai respon dari asap rokok yang
dihisap, gas beracun, dan debu, merusak saluran napas dan parenkim paru. PPOK
dahulunya diklasifikasikan menjadi subtipe bronchitis kronik. asma bronchiale,
dan emfisem parua, walaupun kebanyakan pasien memiliki ketiganya. Bronkitis
kronis didefinisikan sebagai batuk produktif kronis selama lebih dari 2 tahun,
asma bronchiale yaitu suatu
gangguan pada saluran bronchial yang mempunyai ciri bronchospasme periodik
(kontraksi spasme pada saluran nafas) dan emfisema paru
ditandai oleh adanya kerusakan pada dinding alveola yang menyebabkan
peningkatan ukuran ruang udara distal yang abnormal.
A. Faktor Resiko PPOK/ COPD
Merokok sekarang ini merupakan faktor
resiko utama untuk terjadinya PPOK di negara maju. Sebanyak 85% hingga 90%
pasien dengan PPOK memiliki riwayat merokok. Namun dilain pihak, hanya 15% dari
perokok yang akan mengidap PPOK, mengindikasikan sepertinya terdapat faktor
konstitusional atau genetik yang menentukan resiko berkembangnya obstruksi
saluran napas pada seseorang. Defisiensi α1-anti-trypsin merupakan satu-satunya faktor resiko
terkait genetik yang diketahui sampai saat ini, namun kecendrungan PPOK untuk
berkembang pada keluarga tertentu mengindikasikan terdapat faktor herediter
lainnya yang belum teridentifikasi. Polusi udara seperti paparan okupansional
terhadap debu dan gas telah terkait dengan perkembangan PPOK. Faktor resiko
lainnya yang berimplikasi klinis termasuk adanya hiperresponsif bronchial,
paparan partikel, bayi berat lahir rendah, gangguan pertumbuhan dan
perkembangan paru, sress oksidatif, jenis kelamin, umur, infeksi saluran nafas,
status sosioekonomi dan nutrisi, serta komorbiditas
B. Patofisiologi
Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, bahwa factor resiko utama dari PPOK ini adalah merokok.
Komponen-komponen asap rokok ini merangsang perubahan-perubahan pada sel-sel
penghasil mucus dan silia. Selain itu silia yang melapisi bronkus mengalami
kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Perubahan-perubahan pada
sel-sel penghasil mucus dan sel-sel silia ini mengganggu system escalator
mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mucus kental dalam jumlah besar dan
sulit dikeluarkan dari saluran nafas.
Mucus berfungsi sebagai tempat
persemaian mikroorganisme penyebab infeksi dan menjadi sangat purulen. Timbul
peradangan yang menyebabkan edema dan pembengkakan jaringan, ventilasi terutama
ekspirasi terhambat. Timbul hiperkapnia akibat dari ekspirasi yang memanjang
dan sulit dilakukan akibat mucus yang kental dan adanya peradangan. (Antonio et
all, 2007).
Obstruksi saluran nafas pada PPOK
bersifat irreversibel dan terjadi karena perubahan structural pada saluran
nafas kecil yaitu : inflamasi, fibrosis, metaplasisel goblet dan hipertropi
otot polos penyebab utama obstruksi jalan nafas. Ada beberapa karakteristik
inflamasi yang terjadi pada pasien PPOK, yakni : peningkatan jumlah neutrofil
(didalam lumen saluran nafas), makrofag (lumen saluran nafas, dinding saluran
nafas, dan parenkim), limfosit CD 8+ (dinding saluran nafas dan parenkim). Yang
mana hal ini dapat dibedakan dengan inflamasi yang terjadi pada penderita asma
(Corwin EJ, 2001).
C. Manifestasi klinis
Gejala kardinal dari PPOK adalah batuk dan ekspektorasi,
dimana cenderung meningkat dan maksimal pada pagi hari dan menandakan adanya
pengumpulan sekresi semalam sebelumnya. Batuk produktif, pada awalnya
intermitten, dan kemudian terjadi hampir tiap hari seiring waktu.Sputum
berwarna bening dan mukoid, namun dapat pula menjadi tebal, kuning, bahkan
kadang ditemukan darah selama terjadinya infeksi bakteri respiratorik.
Sesak napas setelah beraktivitas berat terjadi seiring
dengan berkembangnya penyakit. Pada keadaan yang berat, sesak napas bahkan
terjadi dengan aktivitas minimal dan bahkan pada saat istirahat akibat semakin
memburuknya abnormalitas pertukaran udara. Pada penyakit yang moderat hingga
berat , pemeriksaan fisik dapat memperlihatkan penurunan suara napas, ekspirasi
yang memanjang, rhonchi, dan hiperresonansi pada perkusi. Karena penyakit yang
berat kadang berkomplikasi menjadi hipertensi pulmoner dan cor pulmonale, tanda
gagal jantung kanan (termasuk distensi vena sentralis, hepatomegali, dan edema
tungkai) dapat pula ditemukan.Clubbing pada jari bukan ciri khas PPOK dan
ketika ditemukan, kecurigaan diarahkan pada ganguan lainnya, terutama karsinoma
bronkogenik.
Tanda-tanda dan gejala kemunculan PPOK sering kali berkaitan dengan
respirasi. Keluhan respirasi ini harus diperiksa dengan teliti karena
seringkali dianggap sebagai gejala yang biasa terjadi pada proses penuaan.
Berikut ini adalah beberapa gejala yang muncul pada penderita penyakit paru
obstruktif kronik:
·
Batuk kronik, adalah batuk hilang timbul selama 3 bulan yang
tidak hilang dengan pengobatan yang diberikan.
·
Berdahak kronik, kadang kadang pasien menyatakan hanya
berdahak terus menerus tanpa disertai batuk.
·
Sesak nafas, terutama pada saat melakukan aktivitas.
Seringkali pasien sudah mengalami adaptasi dengan sesak nafas yang bersifat
progressif lambat sehingga sesak ini tidak dikeluhkan.
Gejala dan tanda-tanda PPOK lainnya adalah sebagai berikut :
·
Bentuk dada barrel chest (dada seperti tong)
·
Terdapat cara bernapas purse lips breathing (seperti orang
meniup)
·
Terlihat penggunaan dan hipertrofi (pembesaran) otot bantu
nafas
·
Pelebaran sela iga
·
Hipersonor
·
Fremitus melemah,
·
Suara nafas vesikuler melemah atau normal
·
Ekspirasi memanjang
·
Mengi (biasanya timbul pada eksaserbasi)
·
Ronki
A.
Kasus
Tn.R 68 tahun datang ke IGD dengan
keluhan pusing, sesak nafas pada saat posisi pasien dari tidur ke duduk, dan
batuk. RPS ( Riwayat Penyakit Sekarang) yaitu satu bulan terakhir tiap pagi
batuk-batuk sampai dahak keluar semua. Sesak nafas bila menaiki tangga. Dua
hari terakhir, pasien mengeluh demam, batuk, pilek, pusing, dan sesak nafas.
Pasien sempat mengalami keluhan serupa dan masuk Rumah Sakit dengan keluhan
yang sama 6 bulan yang lalu. Berdasarkan anamnesia dan pemeriksaan Spirometri
dan foto thorax, diagnose yang ditegakkan klinis/dokter PPOK stadium 3. Terapi
yang diberikan : Oksigen 8 liter dengan RM, setelah stabil terapi yang
diberikan adalah Codein 10 mg per oral 3x1 dan Seretide MDI ( Metered Dose
Inhaler) tiap 6 jam. TTV saat pasien beraktivias :
-
Suhu = 38,50C - TD = 140/90 mmHg
-
Nadi = 100
kali/menit - RR = 75 kali/ menit
B. Analisis Data
No.
|
Data
|
Masalah
|
Etiologi
|
1.
|
DS : pasien mengeluhkan sesak nafas pada
saat posisi pasien dari tidur ke duduk.
DO : TTV pasien setelah beraktivitas, TD
140/90 mm Hg, N 100x/menit, RR 25x/menit.
|
Intoleransi Aktivitas
|
Ketidakseimbangan antara suplai oksigen
dengan kebutuhan.
|
2.
|
DS : pasien mengeluhkan sesak nafas pada
saat posisi pasien dari tidur ke duduk.
DO : RR 25x/menit, terapi yang diberikan Oksigen
RM 8 liter
|
Gangguan Pertukaran Gas
|
Ketidakseimbangan ventilasi perfusi
|
C. Asuhan
Keperawatan
No
|
Diagnosa
|
NOC
|
NIC
|
1.
|
Impaired Gas Exchange
Definisi : kelebihan atau kekurangan dalam
oksigenasi dan atau eliminasi karbondioksida di membran alveolar-kapiler
Batasan
karakteristik :
a. Menurunnya
karbondioksida
b. Dyspnea
Faktor
yang berhubungan :
Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
|
Respiratory Status : Ventilation
Definisi : Pergerakan udara masuk dan keluar
dari paru-paru.
Indikator
:
Ø RR klien dalam
batas normal
Ø Ritme pernafasan
klien dalam batas normal
Ø Klien tidak merasa
sesak napas ketika beraktivitas
Ø Membaiknya hasil
tes fungsi pernapasan kien
Ø Klien dapat
melakukan napas dalam
Vital Sign
Definisi : Kondisi dimana suhu, nadi,
pernapasan, dan tekanan darah dalam rentang normal.
Indikator
:
Ø Suhu tubuh klien
dalam rentang normal
|
Airway Management
Definisi : memfasilitasi patensi dari
saluran udara.
Aktivitas
:
Ø Posisi pasien
untuk memaksimalkan potensi ventilasi
Ø Mendorong
memperlambat pernapasan dalam, berbalik dan batuk
Ø mengelola
bronkodilator, yang sesuai
Ø mengelola
perawatan aerosol, yang sesuai
Ø mengelola udara
humidied atau oksigen, yang sesuai
Ø memonitor
pernapasan dan status oksigenasi, yang sesuai
Respiratoy Monitoring
Definisi : pengumpulan dan analisis data
pasien untuk memastikan patensi jalan napas dan pertukaran gas yang memadai
Aktivitas
:
Ø memantau tingkat,
irama, kedalaman, dan upaya pernapasan
Ø memantau respirasi
berisik, seperti berkokok atau mendengkur
Ø Auskultasi bunyi
nafas, daerah mencatat dari penurunan / ventilasi tidak ada dan kehadiran
souds adventious.
Ø palpasi untuk
ekspansi paru-paru yang sama
Ø memantau gelisah
meningkat, kecemasan, dan kebuhan udara
Ø memonitor pasien
pernapasan sekresi
Ø memantau dyspnea
dan peristiwa yang meningkatkan dan memburuk
Ventilation Assistance
Definisi : promosi pola pernapasan yang
optimal spontan yang memaksimalkan oksigen dan pertukaran karbondioksida di
paru-paru.
Aktifitas
:
Ø mempertahankan
jalan napas paten.
Ø posisi untuk
mengurangi dyspnea.
Ø posisi untuk
memfasilitasi ventilasi / perfusi yang cocok sesuai
Ø posisi untuk
meminimalkan upaya pernapasan
Ø memonitor
pernapasan dan status oksigenasi
Ø mengelola obat
(bronkodilator misalnya dan inhaler) yang mempromosikan patensi jalan napas
Ø mengajar bernapas
tehniques, yang sesuai
Vital Signs Monitoring
Definisi : mengumpulkan dan menganalisis
data dari sistem kardiovaskuler, respirasi, dan suhu tubuh unuk menemukan dan
mencegah komplikasi
Aktvitas:
Ø Monior tekanan
darah, nadi, suhu, dan statu pernpasan, jika memungkinkan.
Ø Monitor tekanan
darah, nadi, pernapsn, sebelum selama dan setelah aktivitas, jika
memungkinkan.
Ø Monitor tekanan
darah ketika pasien, berbaring, duduk dan berdiri sebelum dan setelah
perubahan posisi, jika memungkinkan.
Ø Monitor dan
laporkan tanda dan gejala hipotermi dn hipertermi.
Ø Monitor RR dan
rime pernapsan, mislanya kedalaman dan kesimetrisan.
Ø Monitor suara
paru.
Ø Monitor pola
respirasi yang abnormal.
Ø Monitor warna
kulit, suhu dan kelembapan.
Ø Monitor sianosis
central dan perifer
Ø Identifikasi
kemungkinan penyebab perubahan TTV.
|
2.
|
Activity Intolerance
Definisi :
Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk memenuhi
kebutuhan atau yang diperlukan untuk aktifitas sehari-hari.
Batasan
karakteristik :
a. Abnormalitas tekanan
darah setelah beraktifitas
b. Abnormalitas HR
setelah beraktifitas
c. Perubahan pola EKG
yang menunjukkan aritmia
d. Dyspnea
Faktor yang
berhubungan :
Ketidakseimbangan antara suplay oksigen
dengan kebutuhan tubuh
|
Activity Tolerance
Definisi : respon fisiologis terhadap energi
yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas harian.
Indikator
:
Ø Saturasi oksigen
klien mencukupi untuk melakukan aktivitas
Ø RR klien ketika
beraktivitas dalam batas normal
Ø Klien merasa tidak
susah bernapas ketika beaktifitas
Ø Tekanan darah
sitolik klien normal ketika beraktifitas
Ø Tekanan darah
diastolik klien normal ketika beraktifitas
Endurance
Definisi
: Kemampuan klien untuk mempertahankan aktivitas.
Indikator
:
Ø Klien menunjukkan
pola kebiasaan rutin yang lebih baik
Ø Klien menunjukan
pola aktifitas yang lebih baik
Ø klien tidak
merasakan kelelahan
Ø Blood Oxigen Level dalam batas normal
|
Activity Therapy
Definisi : resep dan bantuan dengan spesifik
fisik, kognitif, kegiatan sosial, dan spiritual untuk meningkatkan jangkauan,
frekuensi, atau durasi (atau kelompok) kegiatan individu.
Aktivitas
:
Ø membantu untuk
fokus pada apa yang dapat pasien lakukan, bukan pada keterbatasan
Ø menciptakan
lingkungan yang aman bagi gerakan otot berkelanjutan, sesuai indikasi
Ø membantu pasien /
keluarga untuk mengidentifikasi keterbatasan di tingkat aktivitas
Energy Management
Definisi
: mengatur penggunaan energi untuk mengobati untuk mencegah kelelahan
dan mengoptimalkan fungsi.
Aktivitas
:
Ø Status fisiologis
menilai pasien untuk keterbatasan yang dihasilkan dalam konteks usia dan
perkembangan
Ø mendorong
verbalisasi perasaan tentang keterbatasan
Ø pilih intervensi
untuk mengurangi kelelahan menggunakan kombinasi kategori farmakologis dan
non-farmakologis, sesuai
Ø membatasi
rangsangan lingkungan (misalnya, cahaya dan kebisingan) untuk memfasilitasi
relaksasi
Ø mempromosikan
bedrest / kegiatan pembatasan (misalnya, meningkatkan jumlah waktu istirahat)
dengan pilihan waktu isirahat
Ø mengatur kegiatan
fisik untuk mengurangi kompetisi untuk suplai oksigen ke fungsi tubuh yg
vital (misalnya, menghindari aktivitas setelah makan)
|
Sumber :
1. NANDA,
NOC and NIC
2. Linus
Santo Tomas - Kochar's Clinical Medicine for Students, 5th Edition
Translated by Husnul Mubarak,S.Ked
Translated by Husnul Mubarak,S.Ked
9. GOLD. Pocket Guide to COPD Diagnosis, Management
and Prevention. USA: 2007. p. 6. [serial online] 2007. [Cited] 20 Juni 2008.
Didapat dari :http://www.goldcopd.com/Guidelineitem.asp?l1=2&l2=1&intId=989






0 komentar:
Posting Komentar